...Dia hanya berdiri dengan mata terbelalak mungkin terkejut sementara aku dengan tubuh penuh luka, pelipis mata kanan yang teriris dan sebuah peluru bersarang di dalam lengan kiri atas mendekati tulang rusukku masih dapat berdiri menahan rasa sakit yang luar biasa... Bodoh! Aku terlalu memaksakan tubuhku untuk melamapui daya tahan manusiawiku!
Aku yakinkan dia jika aku tidak apa-apa, dan diapun sudah mulai melangkah mendekatiku. Polisi itu menembakku cukup dalam, aku katakan padanya. Sutomo hanya diam duduk di pojok pintu, senapan laras panjangnya menutupi mata kirinya. "Aku tidak percaya kau masih bisa berdiri tegap, sakitkah?" tanya E. F. E. Douwes Dekker. Pertanyaan yang bodoh itu tidak aku jawab.
Aku segera menuju jendela dan melihat keluar.
"Kita tidak dapat keluar dari sini, setidaknya hidup-hidup..." kataku pada semua yang berada dalam satu ruangan ini. "Ya, lihatlah polisi-polisi itu, sepertinya mereka tiada letih menanti kita dengan meluruskan lengan mereka dan mengarahkan pistol-pistol itu pada gedung ini," kata Douwes Dekker. "Kita harus meninggalkan tempat ini secepatnya, aku sudah sangat lelah," Sutomo menyambung dari belakang. "Baiklah, kita akan segera pergi dari tempat ini, hidup atau mati, kuharap bocah itu sudah menemukan jalan belakang..." kataku.
"Siapa yang membawa barangnya??" dan kami semua menjadi bingung dan saling memandang...
Kamis, 27 September 2007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar